Hari Pertama Pemberlakuan PSBB Sejumlah Kawasan di Pekanbaru Tampak Sepi

Hari Pertama Pemberlakuan PSBB Sejumlah Kawasan di Pekanbaru Tampak Sepi
Kawasan Jalan SM Amin atau Arengka 2 tampak jauh sangat sepi dari biasanya. Tidak begitu banyak kendaraan yang melewati jalan tersebut, pada hari pertama pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Pekanbaru, Jumat (17/4/2020). Dok.TribunPekanbaru/alex
Bagikan :

BERITA RIAU, PEKANBARU — Hari pertama pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Jumat (17/4/2020) di Pekanbaru, sejumlah kawasan di Pekanbaru tampak lebih sepi dari biasanya.

Walau kendaraan tetap berlalu lalang pada Jumat (17/4/2020) pagi ini, namun jumlahnya tidak seperti biasanya, dan intensitasnya jauh lebih berkurang, baik kendaraan roda dua maupun roda empat.

Pantauan TribunPekanbaru.com di Jalan Soebrantas Pekanbaru misalnya, kendaraan yang lewat di jalanan tidak begitu ramai.

Demikian juga di Jalan SM Amin atau Arengka 2.

Selanjutnya di Jalan Delima, juga tampak lebih sepi dari biasanya.

Aktifitas warga yang berjualan dan berada di luar rumah sangat sedikit sekali.

Begitu juga di Jalan Purwodadi, Cipta Karya, dan beberapa jalan lainnya di kawasan Panam.

Namun sayangnya bagi kendaraan roda dua yang berada di jalan, masih dominasi tidak menggunakan masker saat berkendara.

Di sebagian jalan, juga tampak warga yang melakukan olahraga dengan sepeda menggunakan seperti biasa.

Aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Pekanbaru Riau dimulai hari ini Jumat 17 April 2020.

PSBB di Pekanbaru ini akan berlaku hingga 30 April 2020 mendatang. 

Pemberlakuan PSBB ini belum penuh 24 jam. Pembatasan aktivitas masyarakat baru berlangsung dari pukul 20.00 WIB hingga 05.00 WIB.

 Walikota Pekanbaru, Firdaus mengimbau agar masyarakat yang tidak punya kepentingan tetap berada di rumah saja.

 Apabila PSBB tidak optimal, Pemko Pekanbaru berencana menerapkan PSBB selama 24 jam. 

“Kita akan evaluasi pemberlakuannya, kalau tidak mengurangi mata rantai covid ya diperpanjang jadi PSBB 1×24,” jelasnya dalam Konfrensi Pers di Ruang Multimedia MPP Pekanbaru, Kamis (17/4/2020).

“Maka kami mengajak daerah di Pekansikawan mendukung PSBB Begitu juga Kota Dumai dan Mandau, Kabupaten Bengkalis,” ujarnya.

Firdaus menyebut bahwa sanksi terberat bagi pelanggar PSBB adalah kurungan sama tiga bulan. Dirinya mengaku tidak ingin masyarakat terkena sanksi terberat.

Ia mengajak masyarakat untuk ikut memutus mata rantai covid-19. Caranya dengan tetap berada di rumah.

“Keluar rumah hanya untuk yang penting, Bila di luar rumah pakai masker dan ikuti protokol kesehatan,” ulasnya.

Firdaus menilai pembelakuan PSBB di Kota Pekanbaru sudah tepat. Apalagi dirinya melakukan bahan bersama unsur forkopimda.

Ia mengaku bahwa jumlah kasus covid-19 tidak sebanyak daerah di kawasan yang sudah Zona Merah. Namun perlu diingat Kota Pekanbaru adalah kawasan terbuka.

Terbukti banyak Orang Dalam Pemantauan (ODP) yang berasal dari luar kota. Ada dari Malaysia, Sumatera Barat, Medan, Jakarta dan daerah lainnya yang sudah terjangkit covid-19.

“Apalagi sudah ada di Pekanbaru pasien yang transmisi lokal. Dia tidak riwayat perjalanan, tapi malah terpapar covid-19,” ulasnya.

Pembatasan aktivitas masyarakat ini juga bertujuan agar masyarakat yang sehat tetap sehat. Mereka yang sehat angan sampai tertular.

Maka ia berpesan agar masyarakat menerapkan protokol kesehatan. Apalagi pasar tradisional tetap buka saat pemberlakuan PSBB.

Pengelola pasar nantinya harus mengikuti protokol kesehatan yang ada. Ia mengingatkan masyarakat tidak belanja di pasar kaget.

Firdaus menyebut sejumlah sektor ekonomi yakni infrastruktur dan industri tetap bisa beraktivitas. Begitu juga sektor informal tetap beraktivitas.

Mereka mendapat ruang untuk mencegah krisis ekonomi. “Namun tetap mengacu pada protokol kesehatan. Jaga jarak,” pesannya.

Firdaus menyebut bahwa pemerintah kota pun sudah menerapkan sejumlah poin dalam PSBB. Pemerintah kota hanya bisa berlakukan kebijakan lokal.

Firdaus menilai pembelakuan PSBB di Kota Pekanbaru sudah tepat. Apalagi dirinya melakukan bahan bersama unsur forkopimda.

Ia mengaku bahwa jumlah kasus covid-19 tidak sebanyak daerah di kawasan yang sudah Zona Merah. Namun perlu diingat Kota Pekanbaru adalah kawasan terbuka.

Terbukti banyak Orang Dalam Pemantauan (ODP) yang berasal dari luar kota. Ada dari Malaysia, Sumatera Barat, Medan, Jakarta dan daerah lainnya yang sudah terjangkit covid-19.

“Apalagi sudah ada di Pekanbaru pasien yang transmisi lokal. Dia tidak riwayat perjalanan, tapi malah terpapar covid-19,” ulasnya.

Pembatasan aktivitas masyarakat ini juga bertujuan agar masyarakat yang sehat tetap sehat. Mereka yang sehat angan sampai tertular.

Maka ia berpesan agar masyarakat menerapkan protokol kesehatan. Apalagi pasar tradisional tetap buka saat pemberlakuan PSBB.

Pengelola pasar nantinya harus mengikuti protokol kesehatan yang ada. Ia mengingatkan masyarakat tidak belanja di pasar kaget.

Firdaus menyebut sejumlah sektor ekonomi yakni infrastruktur dan industri tetap bisa beraktivitas. Begitu juga sektor informal tetap beraktivitas.

Mereka mendapat ruang untuk mencegah krisis ekonomi. “Namun tetap mengacu pada protokol kesehatan. Jaga jarak,” pesannya.

Firdaus menyebut bahwa pemerintah kota pun sudah menerapkan sejumlah poin dalam PSBB. Pemerintah kota hanya bisa berlakukan kebijakan lokal.

Proses penanganan covid-19 di Kota Pekanbaru sudah berlangsung sejak Maret 2020.

Pemko Pekanbaru membentuk Tim Tanggap Darurat Covid-19 di Kota Pekanbaru pada 19 Maret 2020.

Kemudian pada 21 Maret 2020 ditetapkan status tanggap darurat covid-19 di Kota Pekanbaru. Lalu pada 23 Maret 2020 diterbitkan edaran untuk memutus mata rantai covid-19.

Pemerintah kota pun kordinasi dengan Pemerintah Provinsi Riau. Mereka pun melakukan pengkajian bersama OPD dan forkopimda.

Pemerintah kota mengajukan izin pemberlakuan PSBB ke Kementrian Kesehatan pada 10 April 2020 malam. 11 April memberikan paparan seputar kesiapan dan kondisi terkini.

Kementrian Kesehatan RI pun memberi izin pada 12 April 2020. Izin ini untuk melaksanakan PSBB di Kota Pekanbaru.

Proses persiapan pun dilakukan optimalisasi perwako sebagai pedoman pelaksanaan PSBB pada 13 April 2020. Mereka menyerahkannya ke Pemerintah Provinsi Riau.

Gubernur Riau pun melakukan verifikasi terhadap perwako. Pemerintah provinsi Riau menyerahkannya pada 15 April 2020 kemarin.

“Hari ini kita sampaikan bahwa pemberlakukannya mulai 17 April 2020,” ulasnya.

Pemerintah kota juga menyiapkan layanan kesehatan di Rumah Sakit Madani. Ada 70 tempat tidur di rumah sakit daerah itu.

Ada juga kamar bagi pasien covid-19 di 22 rumah sakit swasta di Kota Pekanbaru.

Pemerintah Kota Pekanbaru juga menyiapkan lokasi pemakaman.

Ada juga rumah sehat karantina sementara bagi TKI yang baru pulang dari luar negeri di Rusunawa Rejosari. 

 

Baca Juga:   Menjelang Lebaran Jalur Nasional Ini Terus Di Kebut Penyelesaiannya

Sumber : Tribunnewspekanbaru.com

 



Be Smart, Read More