Saat Kekayaan Pejabat Terus Bertambah, Bagaimana Angka Kemiskinan Indonesia di Masa Pandemi?

kalaparan, kemiskinan
Bagikan :

BERITA RIAU-Portal Berita Riau: Saat kekayaan pejabat terus bertambah, bagaimana angka kemiskinan Indonesia di masa pandemi? Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merilis Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) selama setahun terakhir.

Berdasarkan analisa KPK, pejabat negara hartanya mengalami kenaikan mencapai 70,3 persen.

“Kita amati juga selama pandemi setahun terakhir ini, secara umum penyelanggara negara, 70 persen hartanya bertambah,” ujar Deputi Pencegahan dan Monitoring KPK Pahala Nainggolan dalam webinar bertajuk “Apa Susahnya Lapor LHKPN Tepat Waktu dan Akurat”, Selasa (7/9/2021), seperti dilansir dari Kompas.tv.

Dalam paparan yang disampaikan bertajuk “Sibuk Berjibaku dengan Pandemi, Apa Kabar Aset Pejabat Negara”, Pahala mengungkap, ada 58 persen menteri yang kekayaannya bertambah lebih dari Rp 1 miliar.

Sementara, 26 persen menteri kekayaannya bertambah kurang dari Rp 1 miliar.

Di sisi lain, 45 persen kekayaan anggota DPR bertambah lebih dari 1 miliar. Hanya 38 persen anggota Dewan yang melaporkan kekayaannya bertambah kurang dari Rp 1 miliar dan 11 persen lainnya justru melaporkan berkurang.

“Rata-rata bertambah Rp 1 miliar, sebagian besar di tingkat kementerian. Di DPR meningkat juga,” ujarnya.

Baca Juga:   TNI AD di Pelalawan Patroli hingga ke TNTN Guna Cegah Kebakaran Lahan

Dibalik fenomena ini, bagaimana angka kemiskinan Indonesia di masa pandemi ini?

Badan Pusat Statistik (BPS) merili pada Maret 2020, kala virus corona diumumkan jadi pandemi global oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah penduduk miskin di Indonesia adalah 26,42 juta orang.

Setahun kemudian, Maret 2021, jumlahnya naik menjadi 27,54 juta orang, bertambah 1,12 juta orang.

Tidak hanya angka absolut, tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan pun semakin tinggi. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) pada Maret 2021 berada di 1,71, naik dibandingkan Maret yang sebesar 1,61.

Indeks Kedalaman Kemiskinan mencerminkan jarak antara rata-rata pengeluaran penduduk miskin dengan garis kemiskinan. Semakin tinggi angkanya, maka semakin jauh jarak dengan garis kemiskinan.

Artinya, semakin sulit untuk keluar dari ‘kerak neraka’.

ndeks Keparahan Kemiskinan (P2) juga naik. Pada Maret 2021, nilainya ada di 0,42, naik dari Maret 2020 yang sebesar 0,38.

Indeks Keparahan Kemiskinan memberi gambaran mengenai pengeluaran di antara penduduk miskin.

Semakin tinggi angkanya, semakin tinggi ketimpangan di antara mereka.

Harta pejabat daerah juga naik

Baca Juga:   MENGEJUTKAN, 7 Kabupaten Ini Belum Salurkan Bantuan ke Warganya

Tak hanya di tingkat pusat, Komisi Antirasuah juga mencatat kenaikan harta kekayaan pejabat daerah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

Namun, hanya 30 persen gubernur dan wakil gubernur yang melaporkan kekayaannya bertambah di atas Rp 1 miliar. Sementara, 40 persen lainnya melaporkan kekayaannya bertambah kurang dari Rp 1 miliar.

Sementara itu, ada 18 persen bupati/wakil bupati dan wali kota/wakil wali kota yang melaporkan kekayaannya bertambah di atas Rp 1 miliar.

Kendati begitu, Pahala berpendapat, kenaikan pundi-pundi uang para pejabat daerah masih terbilang wajar.

“Kita pikir pertambahannya masih wajar,” katanya.

Ada yang turun

Kendati sebagian besar kekayaan pejabat mengalami kenaikan, KPK turut mencatat adanya penurunan harta kekayaan penyelenggara negara maupun daerah hingga mencapai 22,9 persen di semua instansi.

Penurunan paling banyak terlihat pada kekayaan pejabat legislatif daerah tingkat kabupaten/kota.

Menurut Pahala, penurunan pertambahan bisa terjadi terhadap pejabat yang juga pengusaha karena bisnisnya menurun.

“Kita cuma ingin melihat apakah ada hal yang aneh dari masa pandemi ini. Ternyata kita lihat kenaikan terjadi, tapi penurunan juga terjadi dengan statistisk seperti ini,” ujarnya.

Baca Juga:   Lebih dari 400 Kios dan Ruko Ludes Terbakar Akibat Kebakaran Pasar Terapung, Pasar Rakyat dan Pasar Ikan Asin di Indragiri Hilir

Masih wajar

Pahala menambahkan, kenaikan harta kekayaan pejabat negara maupun daerah yang dilaporkan melalui LHKPN bukanlah perbuatan dosa, sepanjang masih dalam batas statistik yang wajar.

Menurutnya, kenaikan harta kekayaan tak menunjukkan seorang pejabat adalah koruptor. Sebab boleh jadi, kenaikan tersebut karena ada apresiasi nilai aset.

Di samping itu, ada beberapa hal yang membuat kekayaan pejabat mengalami kenaikan, seperti penambahan atau penjualan aset, pelunasan pinjaman, hingga adanya harta baru yang dilaporkan.

“Misalnya saya punya tanah, NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) naik, maka di LHKPN, saya laporkan naik. Jadi, tiba-tiba LHKPN saya tahun depan naik jumlahnya,” jelas dia.

Kendati demikian, pihaknya tetap mewaspadai kenaikan harta kekayaan yang bersumber dari hibah. Sebab, bila kekayaan pejabat rutin bertambah dari hibah, maka hal itu patut dicurigai.

“Kalau hibah rutin dia dapat dalam posisi sebagai pejabat, kita harus pertanyakan. Ini kenapa kok banyak orang baik hati memberikan hibah kepada yang bersangkutan,” ucapnya.

 

Sumber: Tribunpekanbaru.com



Be Smart, Read More