TERKUAK! Ternyata Oknum TNI Dan Oknum Polisi Ini Kerap Jual Amunisi Dan Senpi Untuk KKB di Papua

KKB di Papua
Bagikan :

BERITA RIAU-Portal Berita Riau: TERKUAK! Ternyata oknum TNI dan oknum polisi ini kerap jual amunisi dan senpi untuk KKB di Papua. Di tengah rekan-rekannya banyak yang berguguran akibat keberingasan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua, oknum TNI dan oknum Polisi ini malah menjual amunisi dan senpi ke KKB.

Tak hanya sekali, ternyata oknum-oknum tersebut telah melakukannya berulangkali.

Para oknum tersebut pantas dicap sebagai pengkhianat negara dan dihukum mati jika terbukti.

Oknum-oknum tersebut yaitu, Praka MS, Bripka ZP dan Bripka RA.

Mereka memasok 600 peluru dan senjata ke KKB Papua melalui warga sipil.

Bripka ZP dan Bripka RA, masing-masing berperan menjual pistol revolver serta senjata rakitan laras panjang melalui warga sipil untuk disalurkan ke KKB Papua.

Ketiga oknum aparat negara tersebut berutgas di Ambon.
Praka MS bertugas di Batalyon 733/Masariku Ambon, sedangkan Bripka ZP dan Bripka RA merupakan anggota Polres Kota Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease.

Menurut pengamat militer dari Universitas Padjajaran Muradi, aparat negara yang menjual senjata ke KKB untuk melawan negara harus dihukum berat karena mereka dianggap sebagai pengkhianat negara.

Baca Juga:   Polisi Resmi Tetapkan Pemilik Akun Twitter @ustadzmaaher Alias Soni Jadi Tersangka Atas Kasus Ujaran Kebencian

“Ini (Penjualan senjata kepada Kelompok Kriminal Bersenjata -red) menyimpang dan negara harus menegaskan hukuman, misal hukuman jauh lebih berat dari masyarakat sipil biasa,” kata Muradi, Selasa (23/2/2021).

“Karena senjata untuk melawan negara, kalau ada oknum menjual senjata  atau memberi ruang kesempatan anggota yang memerangi pemerintah indonesia dilakukan dengan sadar, hukumannya harus seberat-beratnya, karena tergolong berkhianat,” tambah Muradi.

Alur penjualan 600 butir peluru dan senjata ke KKB

Seperti diketahui, dari pemeriksaan penyidik POM dan Propam Polda Maluku, para oknum tersebut sudah berulangkali menjual amunisi dan senjata ke KKB Papua.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Kompas (grup SURYA.co.id), Praka MS menjual amunisi tersebut kepada AT (50), warga Kota Ambon, dengan harga Rp 1,5 juta atau seharga Rp 2.500 per kilogram.

AT lalu mengirimkan peluru itu kepada seseorang di Papua melalui WT alias J.

WT adalah warga yang ditangkap oleh anggota Polres Bintuni pada 3 Februari.

Setelah polisi menangkap WT di Bintuni, polisi lalu mencari AT di Ambon.

AT sempat melarikan diri ke Makassar, Sulawesi Selatan, kemudian pulang pada Minggu (21/2/2021) petang.

Ia ditangkap oleh seorang penyidik Reserse Kriminal Umum Polda Maluku, kemudian diproses di Polda Maluku.

Baca Juga:   Seteru Pasar Cik Puan, Gubernur Minta Pemko Serahkan Aset

Dari pengakuan, peran Praka MS terungkap.

WT sudah beberapa kali mengirim amunisi ke Papua.

Pada Senin malam, Kompas (grup SURYA.co.id) menelusuri tempat tinggal AT di Desa Hative Kecil, Kecamatan Sirimau.

Rumah lantai dua itu tampak sepi.

Para tetangga kaget dengan keterlibatan AT dalam penjualan amunisi.

”Memang selama satu minggu terakhir ini, dia menghilang dari kampung,” ujar seorang tetangga AT.

Jual 600 butir peluru kaliber 5,56 milimeter

Praka MS dan Bripka ZP serta Bripka RA diduga menjual dua pucuk senjata api serta 600 butir peluru kaliber 5,56 milimeter dari Ambon, Maluku, ke Papua.

Hingga Selasa (23/2/2021) pagi, pihak Kepolisian Daerah Maluku dan Datesemen Polisi Militer Komando Daerah Militer/XVI Pattimura membenarkan adanya kasus tersebut.

Komandan Detasemen POM Kodam XVI/Pattimura Kolonel CPM J Pelupessy mengatakan, MS sedang dalam pemeriksaan penyidik POM.

MS baru diserahkan oleh bagian intelijen Kodam Pattimura pada Senin (22/2/2021) malam.

Pihaknya berjanji akan menyampaikan perkembangan kasus tersebut kepada masyarakat secepatnya.

Melibatkan orang lain

Sementara itu, Kepala Bidang Humas Polda Maluku Komisaris Besar M Roem Ohoirat mengatakan, kedua anggota tersebut beraksi dengan melibatkan orang lain.

Baca Juga:   Terjadi Lagi Kebakaran,Kebakaran Rumah di Tenayan Raya, Korban Terbangun Melihat Api Kemudian Menyelamatkan Anak dan Istri

ZP menjual senjata api rakitan menyerupai SS1, sedangkan RA menjual revolver standar.

Roem belum mau menjelaskan lebih dalam tentang kronologi kasus.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Kompas, senjata rakitan SS1 itu dijual dengan harga sekitar Rp 40 juta, sedangkan revolver sekitar Rp 15 juta.

Revolver itu milik seorang anggota TNI Angkatan Udara yang dipinjamkan kepada RA.

”Kepastiannya tunggu konferensi pers nanti,” ujar Roem.

Menurut dia, keterlibatan anggota Polri dalam upaya penjualan senjata ke kelompok kriminal bersenjata di Papua mencoreng nama baik institusi Polri yang selama ini membantu TNI memerangi kelompok tersebut.

”Tidak ada toleransi sedikit pun bagi anggota yang bertindak seperti itu,” katanya.

ZP menjual senjata api rakitan menyerupai SS1, sedangkan RA menjual revolver standar.

Roem berjanji, pihak akan mengusut tuntas kasus tersebut, termasuk mendalami keterlibatan pihak lain di luar Polri, seperti masyarakat umum atau instansi yang lain.

Roem enggan menanggapi berkembangnya informasi bahwa ada oknum dari insitusi lain juga ikut terlibat.

 

Sumber: Tribunpekanbaru.com



Be Smart, Read More