Dicap Sebagai Kelompok Teroris, Aset Rp 142 triliun Punya Afghanistan tak Bisa Digunakan Taliban

Pejuang Taliban memegang bendera Taliban berkumpul di sepanjang jalan selama rapat umum di Kabul pada 31 Agustus 2021 saat mereka merayakan setelah AS menarik semua pasukannya keluar dari negara itu untuk mengakhiri perang 20 tahun yang brutal - perang yang dimulai dan diakhiri dengan Islam garis keras berkuasa.
Bagikan :

BERITA RIAU-Portal Berita Riau: Dicap sebagai kelompok teroris, aset Rp 142 triliun punya Afghanistan tak bisa digunakan Taliban. Afganistan ternyata punya aset Rp 142 trilun lebih yang kini masih dibekukan.

Aset tersebut tidak bisa digunakan oeh pemerintahan Taliban saat ini.

Aset tersebut ternyata memang sengaja di bekukan karena dikhawatirkan akan disalahgunakan oleh Taliban,

Hal tersebut secara gamblang disampaikan oleh PBB.

PBB menilai bahwa Taliban dicap sebagai kelompok teroris yang menguasai Afganistan.

Ada hal yang mengerikan bahkan diprediksi oleh PBB terkait dengan kondisi Afganistan kedepannya

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa Afghanistan berisiko mengalami “kehancuran total”, masyarakat internasional tidak bisa menghentikan aliran uang ke negara yang dikuasai Taliban itu.

Hampir 10 miliar dollar AS (Rp 142,1 triliun) aset bank sentral Afghanistan saat ini dibekukan di luar negeri, mengantisipasi untuk tidak disalahgunakan oleh Taliban yang dicap sebagai kelompok teroris yang menguasai negara.

Baca Juga:   Kasus Jual Beli Jabatan di Kemenag, Siapa Yang Akan Menyusul Romahurmuziy?

Namun, utusan khusus PBB untuk Afghanistan Deborah Lyon memberi tahu Dewan Keamanan pada Kamis (10/9/2021), bahwa perlu ditemukan cara untuk memasukkan uang ke Afghanistan “untuk mencegah kehancuran total ekonomi dan ketertiban sosial”.

Melansir Al Jazeera pada Jumat (10/9/2021), Afghanistan saat ini berada dalam kondisi krisis, mata uang jatuh, kenaikan tajam harga makanan dan bahan bakar, serta kurangnya uang tunai di bank swasta.

Lyon mengatakan bahwa pihak berwenang juga tidak memiliki dana untuk membayar gaji.

“Ekonomi harus dibiarkan berjalan selama beberapa bulan lagi, memberi Taliban kesempatan untuk menunjukkan fleksibilitas dan keinginan tulus untuk melakukan hal-hal yang berbeda kali ini,”

“Terutama dari perspektif hak asasi manusia, gender, dan kontraterorisme,” kata Lyons kepada kelimabelas anggota Dewan.

Baca Juga:   Hendak Berdemo Tolak PPKM Pekanbaru, Polisi Bubarkan Mahasiswa yang Berkumpul di UMRI

Menurutnya, perlindungan dapat dirancang untuk memastikan dana tidak disalahgunakan.

Donor asing yang dipimpin oleh Amerika Serikat menyediakan lebih dari 75 persen pengeluaran publik untuk pemerintah Afghanistan yang hancur, ketika AS menarik pasukannya setelah 20 tahun di negara itu.

Pemerintahan Presiden Joe Biden telah mengatakan terbuka untuk menyumbangkan bantuan kemanusiaan.

Namun, setiap tindakan ekonomi langsung AS, seperti mencairkan aset bank sentral, akan bergantung pada tindakan Taliban, termasuk memungkinkan perjalanan yang aman bagi orang-orang yang ingin pergi dari Afghanistan.

Penerbangan sipil pertama dari Kabul membawa lebih dari 100 penumpang telah mendarat di Qatar pada Kamis (9/9/2021).

Dana Moneter Internasional (IMF) juga telah memblokir Taliban dari akses sekitar 440 juta dollar AS (Rp 6,2 triliun) dalam dana cadangan darurat baru.

“Taliban mencari legitimasi dan dukungan internasional. Pesan kami sederhana: setiap legitimasi dan dukungan apa pun harus diperoleh,” kata diplomat senior AS Jeffrey DeLaurentis kepada Dewan Keamanan seperti dikutip dari Kompas.com.

Baca Juga:   Tunggakan PBB Pekanbaru Capai Rp13 M

Rusia dan China, yang menawarkan jutaan dalam bantuan darurat kepada Afghanistan, mendesak untuk dibebaskannya aset-aset negara tersebut yang dibekukan.

“Aset-aset ini milik Afghanistan dan harus digunakan untuk Afghanistan, bukan sebagai pengungkit untuk ancaman atau pengekangan,” kata Wakil Duta Besar China untuk PBB Geng Shuang.

Peringatan utusan khusus PBB untuk Afghanistan Deborah Lyon muncul tak lama setelah laporan tajam dari Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) yang memperingatkan Afghanistan bisa menghadapi kemiskinan universal karena ekonomi berkontraksi.

UNDP mengatakan negara berpenduduk 18 juta itu sudah menjadi salah satu yang termiskin di dunia dengan 72 persen orang hidup dengan tidak lebih dari satu dolar per hari.

 

Sumber: Tribunpekanbaru.com

 

 

 



Be Smart, Read More