BREAKING NEWS : Indonesia Diprediksi Alami 2.500 Bencana pada 2019, Siapkah Kita?

BREAKING NEWS : Indonesia Diprediksi Alami 2.500 Bencana pada 2019, Siapkah Kita?
Pemandangan dari udara kawasan pemukiman nelayan di Kampung Sumur Pesisir, Pandeglang, Banten, Selasa (24/12). Situasi Kampung Sumur gelap gulita karena listrik mati saat tsunami menerjang. (Merdeka.com/Arie Basuki)
Bagikan :

BERITA RIAU, Jakarta – Tahun 2018 menjadi momentum penuh cobaan bagi rakyat Indonesia, kala gelombang bencana datang silih berganti. Kehancuran terjadi di Lombok, Palu, Donggala, Banten, Lampung, dan sejumlah wilayah lainnya. Ribuan orang menjadi korban jiwa dan luka.

Kini, tahun telah berganti jadi 2019, namun ancaman bencana belum usai.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memprediksi, 2.500 bencana alam bakal terjadi di Tanah Air pada tahun ini. Sebanyak 95 persen di antaranya merupakan bencana hidrometeorologi.

Bencana hidrometeorologi merupakan bencana yang dipicu oleh parameter meteorologi, seperti curah hujan, kelembaban, dan angin.

Bukan untuk menakut-nakuti, prediksi yang diperoleh dari tren bencana pada tahun-tahun sebelumnya ini dipublikasikan untuk membangun kesiapsiagaan.

Tak juga main-main, BNPB mengklaim jumlah tersebut diperoleh dengan perhitungan data yang terperinci. Seluruh data soal kebencanaan dari tahun ke tahun dan prakiraan musim diramu dan dianalisis secara teliti.

Baca Juga:   Fadli Zon : Buk Sri Tidak Pantas Mendapatkan Penghargaan Itu!

“Jadi kita memperkirakan tidak asal-asalan, sudah punya basic pengetahuan sebelumnya. Sistem pendataannya juga kita sudah tahu, ditambah dengan prediksi-prediksi yang ada, bagaimana musimnya, cuaca. Ya kalau geologi kan, kita sudah tahu, tidak bisa diprediksi, tapi tahu daerah-daerah mana kan (yang berpotensi),” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, kepada Liputan6.com, Rabu 2 Januari 2019.

Kepala Seksi Mitigasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Abdul Muhari sepakat, jika berberbicara soal tren, bencana geologi maupun hidrometeorologi memang cenderung naik. Ini juga terbaca pada data yang dimiliki olehnya.

“Ketika kita bicara prediksi ke depan, analisis tren kejadian bencana, jika dilihat dari data yang saya miliki, dari tahun sekian sampai sekian, bencana geologi dan hidrometeorologi memang sama-sama naik trennya. Tapi lebih banyak hidrometeorologi,” ujar Abdul Muhari ketika dihubungi Liputan6.com, Rabu 2 Januari 2019.

Baca Juga:   Dalam Perlombaan GFNY Bali 2018 Terdapat 30 Negara Asing Yang Mendaftar

Lalu mengapa sebagian besar bencana yang bakal terjadi merupakan hidrometeorologi? Bencana seperti banjir, longsor dan puting beliung diprediksi masih akan mendominasi.

Abdul Muhari menjelaskan, bencana jenis ini lebih banyak terjadi karena ada campur tangan manusia. Fenomena alam terkait meteorologi, kata dia, mungkin tak akan sampai jadi bencana ketika tidak ada peran manusia.

“Ada yang namanya man made disaster. Misalnya alih fungsi lahan, penggundulan hutan, hutan mangrove jadi tambak. Potensi bencana tidak akan meningkat meski mungkin fenomena itu, misal gelombang panas ekstrem, terjadi. Kalau sebenarnya ekosistemnya baik, belum tentu jadi bencana,” tutur dia.

Sementara untuk bencana geologi, dia tak bisa memprediksi. Terlebih, bencana ini sepenuhnya bergantung pada alam. Dan belum ada teknologi yang sejauh ini dianggap sahih dan mumpuni, misalnya untuk memprediksi gempa.

Baca Juga:   Waspada Covid-19, Pemko Pekanbaru Tiadakan CFD

Sebelumnya BNPB mengungkap, luasnya kerusakan daerah aliran sungai (DAS), lahan kritis, laju kerusakan hutan, kerusakan lingkungan, perubahan penggunaan lahan, dan tingginya kerentanan menyebabkan potensi bencana hidrometeorologi meningkat.

Pemetaan yang dilakukan BNPB menunjukkan, rata-rata laju perubahan lahan pertanian menjadi lahan nonpertanian adalah 110.000 hektare per tahun. Belum lagi lahan kritis yang mencapai 14 juta hektare di Tanah Air.

Tak heran, banjir dan longsor masih akan banyak terjadi di daerah rawan banjir dan longsor.

Kemudian, kebakaran hutan dan lahan pun masih akan terjadi. Tetapi dapat diatasi dengan lebih baik.

Terlebih, musim kemarau dan penghujan pada 2019 diprediksi normal. Tidak ada El Nino dan La Nina yang memperburuk musim.

 

 

Sumber : Liputan6.com



Be Smart, Read More