WASPADA! Peminjam Uang Aplikasi Ini Tuai Masalah, Baru Pinjam 7 Hari Langsung Berbunga Artikel ini telah tayang di Tri

334
0

Berita Pekanbaru - Berita Riau
Bagikan :
WASPADA! Peminjam Uang Aplikasi Ini Tuai Masalah, Baru Pinjam 7 Hari Langsung Berbunga Artikel ini telah tayang di Tri
Ilustrasi

BERITA RIAU, BANDUNG — Sejumlah warga Kota Bandung dan beberapa daerah lain di Jawa Barat (Jabar) mengakses pinjaman uang ke perusahaan financial technology (fintech).

Peminjaman uang pada perusahaan fintech dengan media aplikasi ponsel berbasis Android dan Apple.

Sayangnya, mereka yang meminjam uang pada perusahaan fintech yang tidak terdaftar pada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pada Mei 2018, O‎JK merilis 51 perusahaan fintech berizin dan resmi dengan domisili mayoritas perusahaan itu berada di Jabodetabek. Akibatnya, para peminjam ini jadi menemukan masalah.

Sejumlah peminjam uang dengan skema online lewat aplikasi menjelaskan, awalnya, setiap calon peminjam uang pada perusahaan fintech harus menginstal aplikasi-aplikasi fintech di Playstore atau App Store di Apple.

Misalnya, Tangbull, Angel Cash, We Cash, Kook Cash, Micromoney, Rupiah Now, Go Rupiah, Tunai Kita, Dana KLAT, Rupiah Avenue dan lebih dari 10 aplikasi fintech lainnya.

Tribun mencocokan nama-nama yang disebut oleh sejumlah peminjam uang itu dengan nama perusahaan fintech berizin dan terdaftar di OJK. Namun, tak satupun perusahaan fintech yang disebutkan itu cocok dengan perusahaan yang terdaftar.

Elis Widaningsih (36) warga Kabupaten Bandung menjelaskan, saat menginstal, aplikasi itu meminta izin untuk mengakses daftar kontak telpon, SMS, panggilan telpon, galeri, hingga perangkat ponsel si calon peminjam.

Jika tidak diizinkan, aplikasi peminjaman uang itu tidak bisa digunakan. Si calon peminjam diwajibkan mencantumkan nomor telpon yang bisa dihubungi.

Pantauan Tribun dalam satu aplikasi, Tangbull misalnya, setelah menginstal, terdapat sembilan s ketentuan yang harus disetujui.

Baca Juga:   Gunung Merapi Keluarkan Lava Pijar Setinggi 1/2 Kilometer, Sejumlah Desa di Klaten Terkena Hujan Abu

Salah satunya, penyelenggara dengan persetujuan pengguna (peminjam), untuk mengakses, memperoleh, menyimpan, mengelola dan atau menggunakan data pribadi.

Kemudian di aplikasi Dana Rupiah. Sebelum aplikasi itu bisa digunakan, terdapat sejumlah ketentuan yang harus disetujui oleh calon peminjam.

Misalnya saja, ketentuan soal kewenangan Dana Rupiah untuk mengakses dan menggunakan data pribadi peminjam yang ada di ponsel seperti nomor telpon, rekening bank, alamat email dan data-data pribadi lainnya.

Dari puluhan aplikasi fintech yang digunakan peminjam, semuanya menerapkan ketentuan serupa. Termasuk, membebaskan perusahaan fintech dari semua tuntutan pidana dan gugatan perdata yang muncul setelah perjanjian pinjam meminjam uang ini.

Setelah ketentuan itu disetujui, ‎peminjam baru bisa menggunakan aplikasi itu dengan mengikuti intruksi peminjaman dana. Dana yang disediakan, dari banyaknya aplikasi fintech, mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 20 juta lebih.

“Untuk aplikasi Tangbull misalnya, wajib mencantumkan nomor telpon. Lalu tinggal tentukan berapa uang yang dipinjam. Setelah itu, ‎saya ditelpon pemberi pinjaman untuk verifikasi data diri. Kemudian mengupload foto KTP di aplikasi serta mengupload foto kita sedang memegang KTP. Ada lagi, aplikasi itu merekam saya sedang memegang KTP dengan menggerak-gerakan tubuh. Alasannya untuk verifikasi,” ujar Elis via ponselnya, Rabu (1/8).

Tidak ada proses survey ke lokasi tempat tinggal, tempat bekerja atau permintaan struk gaji sebagaimana dalam proses pinja‎man ke perbankan pada umumnya.‎

Baca Juga:   KPK Menyita Bawa 16 Kendaraan Mewah Bupati Hulu Sungai Tengah ke Jakarta

“Peminjaman disetujui tidak butuh waktu lama, dalam hitungan jam langsung cair. Ditransfer ke rekening sendiri, ada yang prosesnya hitungan menit ada juga yang hitungan jam,” ujar Elis.

Untuk pembayaran, mayoritas aplikasi fintech memberikan tenggat waktu tujuh hingga 14 hari namun tidak dicicil.

“Saya pinjam Rp 1 juta, cairnya Rp 920 ribu dibayar 7 hari kemudian sebesar Rp 1 juta delapan puluh ribu,” katanya.

Awalnya, pembayarannya lunas karena bisnisnya lancar. Namun, satu waktu, bisnisnya bermasalah sehingga sulit membayar. Namun hutang tetap harus dibayar.

“Untuk membayar hutang, akhirnya saya ‎pinjam uang lagi ke aplikasi fintech lainnya. Istilahnya gali lobang tutup lobang sampai akhirya hutang saya membengkak,” ujar Elis. Hal sama dialami oleh Rina dan Aa.

Sejumlah peminjam yang ditanyai soal proses peminjaman mengatakan hal yang sama. Seperti Rina Wahyuni (36) warga Babakan Sari Kota Bandung dan seorang pria berinisial Aa (38) warga Sekeloa Kota Bandung.

“Proses Peminjaman di semua aplikasi sama. Harus izinkan aplikasi tersebut untuk akses perangkat ponsel kita, upload KTP dan foto peminjam memegang KTP‎ merekam video sedang memegang KTP serta ditelpon oleh pemberi pinjaman,” ujar Aa via ponselnya.

Dia meminta Tribun untuk tidak menyebutkan identitas namanya namun berkenan wawancaranya untuk dikutip.

Hal senada dikatakan Rina. “Prosesnya sama, pencairanya tidak butuh waktu lama,” ujar Rina via ponselnya. ‎

Baca Juga:   Berita Terkini Pesawat Lion Air JT 610 Jatuh di Karawang

Elis, Rina dan Aa menyebut denda per hari mencapai 0,7 persen hingga 25 persen dari total tunggakan. Namun, ketentuan denda itu tidak dijelaskan di awal saat perjanjian peminjaman dana.

Masalah datang saat pembayaran telat. Pemberi pinjaman kata Elis, Rina dan Aa, menyebar pesan tagihan tersebut via SMS ke semua nomor kontak yang ada di ponsel si peminjam.

Dalam foto capture pesan penagihan yang diterima Tribun misalnya, salah satu kutipan kalimat penagihannya.

“Tagihan anda Rp 1,328 juta sudah lewat jatuh tempo 14 hari. Bayarkan Lunas. Hari ini menghindari kami, tagihan hutang anda langsung ke almat rumah, tetangga, kantor dan HRD, ke semua kerabat dan kontak aktif anda. Harap korperatif untuk penagihan kami,”‘

Baik Elis, Rina dan Aa kaget mendapat perlakuan penagihan. ‎Pasalnya, ia tidak merasa memberikan kontak telpon teman-temannya pada si pemberi pinjaman.

‎”Saya baru sadar ternyata si fintech diberi izin oleh saya untuk mengakses kontak telpon saya‎ agar saat macet, mereka bisa menagih ke teman-teman saya via SMS. Akhirnya teman saya tahu. Padahal saya bukan tidak sanggup bayar, cuma cara penagihannya itu menyalahgunakan izin yang saya berikan pada mereka,” ujar Elis.

Rina dan Aa juga baru menyadari soal ini setelah ia mengizinkan aplikasi fintech ini mengakses data kontak telpon.

 

Sumber : Tribunnewspekanbaru.com

 

Loading...