Gempa di Hari Minggu, Kapan Lombok Berhenti Berguncang?

Gempa di Hari Minggu, Kapan Lombok Berhenti Berguncang?

35
0
Gempa di Hari Minggu, Kapan Lombok Berhenti Berguncang?
Warga korban gempa Lombok di pengungsian mengikuti HUT ke-73 RI (Liputan6.com/Sunariyah)

BERITA RIAU, Mataram – Minggu malam, 19 Agustus 2018, suara tokek mengusik ketenangan hati warga korban gempa yang berada di tenda pengungsian di Desa Bagelongge, Kecamatan Selong, Lombok Timur. Tak hanya sekali cecak besar itu mengeluarkan bunyi, tapi hingga lima kali.

Rasa takut mendera sejumlah warga. Jangan-jangan, itu adalah sebuah pertanda tak baik. Entah firasat itu benar atau hanya kebetulan, sesaat setelah tokek berhenti bersuara, gempa dengan magnitudo 6,9 memicu guncangan kuat.

Orang-orang yang panik berlarian ke jalan dan tanah lapang, aliran listrik putus tiba-tiba. Warga menghabiskan malam dalam kondisi gelap gulita. Bahkan cahaya Bulan yang biasanya bersinar kala itu tertutup awan.

Sejak kali pertama akhir Juli lalu, warga selalu waswas sekaligus siaga terutama pada hari Minggu. Mengapa?

Sebab, empat gempa besar yang mengguncang Lombok terjadi pada hari Minggu. Warga trauma.

“Rasanya seperti menunggu tamu menakutkan di hari Minggu,” kata Yayan (17), seorang warga. Sampai-sampai di Lombok beredar desas-desus, gempa lebih besar akan datang Minggu depan.

Pantauan Liputan6.com pada Senin sore, 20 Agustus 2018, warga bergegas mendirikan tenda. Segala perlengkapan disiapkan, selimut, lampu senter, air minum, dan barang-barang penting lainnya.

“Yang penting kami sudah berada di tenda, kita enggak tahu kapan gempa akan datang, tapi biasanya malam,” kata warga bernama Rodiah.

Saat magrib, seluruh anggota keluarga sudah berada di tenda yang dibuat dari terpal. Doa pun dipanjatkan usai salat, agar lindu tak kembali mengguncang dan Lombok bisa segera pulih.

Trauma akibat gempa Lombok berawal pada Minggu, 29 Juli 2018. Minggu pagi itu, guncangan akibat lindu dengan magnitudo 6,4 terasa kuat. Lebih dari seribu rumah rusak, korban jiwa pun jatuh. Sebanyak 16 orang meninggal dunia dan 355 lainnya cedera.

Ternyata, itu baru gempa awalan (foreshock), sebab, gempa utama (mainshock) terjadi sepekan kemudian pada Minggu, 5 Agustus 2018 dengan magnitudo 7.

Data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut, terjadi 814 kali gempa susulan di Lombok usai gempa utama magnitudo 7,0 pada 5 Agustus lalu.

Dan ternyata, lindu Minggu malam kemarin bukanlah susulan, melainkan gempa baru yang episentrumnya juga berada di Lombok Timur.

“Gempa Lombok dengan kekuatan magnitudo 7 dimutakhirkan menjadi magnitudo 6,9 merupakan aktivitas gempa baru. Berbeda dengan kekuatan gempa yang terjadi pada 5 Agustus lalu,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati.

#Rekomendasi :   Masyarakat Memberikan Simpati untuk Korban Gempa Dengan Tagar #PrayForNTB

Gempa Minggu malam terjadi akibat adanya akitvitas sesar di dalam Bumi. Efek guncangan dapat menimbulkan kerusakan.

“Hasil analisis BMKG, sumber gempa dipicu oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan naik atau patahan naik,” ujar mantan rektor UGM itu.

Ia menambahkan, gempa susulan kemungkinan masih akan terjadi. BMKG mencatat hingga Senin (20/8/2018) pukul 11.00 Wita, telah terjadi 101 kali gempa susulan usai gempa 6,9 SR Minggu 19 Agustus malam.

“Hindari bangunan yang rawan roboh dan tetap tenang serta waspada,” pesan Dwikorita.

Secara terpisah, peneliti di Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman Natawijaya mengatakan, pusat gempa pada 5 Agustus dengan 19 Agustus malam tidak terlalu berjauhan.

“Ibaratnya beda RT tapi masih satu RW. Pusat lokasinya beda tapi masih berdekatan,” ujar Danny Hilman kepada Liputan6.com, Senin (20/8/2018).

Dia memprediksi gempa yang terjadi Minggu 19 Agustus malam adalah gempa skala besar yang terakhir. Setelah ini, peraih gelar Ph.D dari California Institute of Technology (Caltech) itu meyakini, tak akan lagi lindu dengan kekuatan besar yang mengguncang Lombok.

“Tenaganya sudah habis, tidak ada lagi pergeseran sesar di area tersebut,” kata dia.

Danny meminta pemerintah fokus pada penanganan pertama korban gempa. Menurutnya, guncangan yang terjadi berulang kali di Lombok, membuat banyak warga trauma.

Sementara itu, Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyatakan, gempa yang mengguncang Lombok Minggu malam 19 Agustus mengakibatkan 10 orang meninggal dan 24 luka-luka. Selain itu, 151 unit rumah rusak dan 6 unit fasilitas ibadah rusak.

“Ini adalah data sementara karena pendataan masih berlangsung. Kendala listrik padam total menyebabkan komunikasi dan pendataan terhambat,” ujar Sutopo.

Dari 10 korban meninggal, 4 orang berasal dari Kabupaten Lombok Timur, 5 orang dari Sumbawa Besar, 1 dari Sumbawa Barat.

“Tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, ESDM, dan relawan masih melakukan evakuasi,” kata dia.

Sutopo menyatakan, saat gempa masyarakat banyak yang berada di luar rumah dan di pengungsian. Berkat itu, korban jiwa tak jatuh dalam jumlah besar.

 

 

Sumber : Liputann6.com

SILAHKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.