Tetap Waspada, 10 Kecamatan di Bandung Berpotensi Likuefaksi

66
0

Berita Pekanbaru - Berita Riau
Bagikan :
Tetap Waspada, 10 Kecamatan di Bandung Berpotensi Likuefaksi
Pantauan udara ratusan rumah terendam lumpur dan tanah di Petobo, Palu Selatan, Sulawesi Tengah, Rabu (3/10). Fenomena likuifaksi tersebut terjadi pasca gempa berkekuatan 7,4. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

BERITA RIAU, Bandung – Bandung, Jawa Barat, dianggap salah satu kota yang punya potensi gempa dan likuefaksi. Hal ini setidaknya diungkapkan Kepala Subbidang 1 PIPW, Andry Heru Santoso. Bukan untuk membuat khawatir, informasi ini merupakan upaya untuk mengedukasi masyarakat Bandung terhadap ancaman gempa yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

Andry menyebut, ada sepuluh kecamatan di Kota Bandung yang berpotensi mengalamai likuefaksi atau pencairan tanah. Itu merupakan hasil dari sebuah riset dari ITB.

Fenomena yang terjadi ketika tanah yang jenuh atau agak jenuh kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan. Misalnya berdampak karena getaran gempa bumi atau perubahan ketegangan lain secara mendadak. Sehingga tanah yang padat berubah wujud menjadi cairan atau air berat.

“Sebagian besar di Bandung Selatan, juga sedikit di Timur, yakni Bandung Kulon, Babakan Ciparay, Bojongloa Kaler, Bojongloa Kidul, Astana Anyar, Regol, Lengkong, Bandung Kidul, Antapani, dan Kiara Condong,” kata Andry, Kamis (11/10/2018) kepada Jawapos.com.

Namun menurutnya, penelitian tersebut perlu diperbaharui untuk bisa dipastikan kembali. Dalam hal ini, yang perlu lebih intensif dilakukan adalah upaya-upaya sosialisasi kepada masyarakat untuk mengedukasi tentang potensi bencana alam dan cara menyelamatkan diri.

Baca Juga:   Semifinal Piala Presiden 2018 : Pertahanan Bali United Membuat Imbang Permainan Dari Sriwijaya

Karena sebenarnya fenomena itu terjadi salah satunya karena perkembangan Kota Bandung yang cukup pesat dan pembangunan yang rata-rata vertikal (ke atas). Faktor lainnya yakni banyaknya kawasan padat penduduk.

Guna meminimalisasi hal buruk ketika terjadi gempa atau bencana alam, maka perlu dilakukan simulasi dan sosialisasi kepada masyarakat. Pemerintah daerah dan gedung-gedung seperti mal, perkantoran, hotel, dan lainnya harus memiliki jalur evakuasi.

“Artinya jalur evakuasi atau ruang evakuasi itu mungkin perlu dan segera dilakukan upaya-upaya penyediaan. Apabila terjadi bencana itu bisa diminimalisasi,” jelasnya.

Baca Juga:   Zumi Zola Sempat Tidak Bisa Tidur di Rutan

Kemudian juga bisa lihat, sekarang itu potensi pengambilan air bawah tanah, khususnya di permukiman atau kawasan perumahan itu cukup tinggi. Hal ini terjadi karena memang PDAM tidak mampu lagi menyediakan sambungan air baru. Artinya alternatif yang paling murah hanya dari pengambilan air bawah tanah.

Sehingga, lanjutnya ini menyebabkan di kawasan tersebut air tanah semakin menipis. Sedangkan, recharge atau pengisian ulang itu butuh waktu yang cukup lama.

“Ini sudah beberapa terjadi di kawasan-kawasan yang memang banyak terjadi di kawasan industri tekstil, garmen, kompleks (terjadi penurunan tanah). Juga karena fenomena kawasan perumahan baru semakin mempercepat terjadinya penurunan permukaan tanah, bahkan tadi, likuefaksi,” ujarnya.

Baca Juga:   Jokowi Mengenakan Kemeja Unik Sa'at Daftar KPU Bakal Jadi Brand Kampanye

Kepala Bidang Perencanaan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah (PIPW) pada Bappelitbang Kota Bandung, Tammy Lasmini mengimbau kepada masyarakat untuk tidak panik. “Informasi ini bukan untuk panik, tapi kami melihat potensinya di situ, terjadinya belum tahu,” ucap Tammy.

Maka Pemkot Bandung akan bersinergi dengan keamanan yakni Polri dan TNI. Karena dari Kepolisian dan TNI harus mengetahui serta ikut mengedukasi dan mengajak untuk bersama-sama menghadapi bencana alam.

“Maka secara teknis kita perkuat. Jangan panik tapi kita harus siap hadapi bencana itu,” pungkasnya.

 

 

Sumber : Liputan6.com

Loading...