Hari AIDS Sedunia 2018, LGBT Penularan Tertinggi HIV AIDS di Riau

18
0

Berita Pekanbaru - Berita Riau
Bagikan :
Hari AIDS Sedunia 2018, LGBT Penularan Tertinggi HIV AIDS di Riau
Hari AIDS Sedunia 2018, LGBT Penularan Tertinggi HIV AIDS di Riau, Kalahkan Penggunaan Jarum Suntik Dok.Tribun Pekanbaru

BERITA RIAU, PEKANBARU – Penularan tertinggi kasus HIV dan Aids di Riau saat ini mulai bergeser.

Bila sebelumnya penggunaan jarum suntik dan menyasar ibu rumah tangga lebih tinggi, saat ini tren penularan tertinggi justru melalui perilaku menyimpang lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

Disusul pelanggan penjaja seks sebanyak 82 kasus, dilanjutkan pasangan beresiko tinggi 28 kasus dan wanita penjaja seks 20 kasus, serta lainnya 138 kasus.

“Sekarang yang meningkat itu penularan dan kasusnya karena LGBT, berdasarkan data yang ada di Dinas Kesehatan, “ujar Kadinkes Riau Mimi Yuliani Nazir kepada Tribun.

Sementara itu Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Riau Sri Suryaningsih mengakui kecenderungan peningkatan kasus temuan HIV dan Aids pada kalangan LGBT.

Baca Juga:   Sementara Korban Meninggal Akibat Gempa Palu dan Donggala Kini Bertambah Jadi 1.558 Orang

“Sekarang beralih ke kalangan LGBT lebih banyak kasus yang ditemukan. Peningkatannya di Riau sendiri dari sebelumnya kasus HIV dan Aids pada LGBT dari awalnya 0,1 sekarang 0,7 persen, “jelas Sri Suryaningsih.

Anehnya lagi temuan dari KPA ada kecenderungan yang menjadi korban terinfeksi HIV dan Aids dari kalangan LGBT ini merupakan generasi muda termasuk para mahasiswa di Riau.

“Terutama kalangan mahasiswa dan generasi penerus arahnya kesana sekarang kasusnya, “ujar Sri.

entunya lanjut Sri, ini persoalan serius yang harus ditangani bersama, karena jika tidak ada upaya pencegahan bisa jadi kasus pada generasi muda semakin meningkat.

“Ini persoalan serius di Riau, LGBT menyasar kalangan anak muda dan parahnya mereka terinfeksi HIV dan Aids, “ujar Sri.

Menurut pengamatan KPA ini terjadi disebabkan selain gaya hidup juga karena trauma masa lalu, dimana anak yang pernah jadi korban sodomi biasanya memiliki kelainan seks, bahkan bisa menjadi predator bagi yang lainnya.

Baca Juga:   Salah Satu Teroris Yang Di Tangkap Di UNRI Ada Kaitannya Dengan Penyerangan Teroris Di Polda Riau

“Seperti pernah disodomi maka dia akan cenderung kesana. Makanya ada istilah sekarang, orangtua ditakutinya sekarang bukan punya anak perempuan namun anak laki-laki (LGBT), “ujar Sri.

Hal lain yang menjadi perhatian KPA lagi selain LGBT adanya peningkatan kasus ibu dan anak bahkan di Riau lebih tinggi dari nasional, jika nasional hanya 2 persen Riau sudah 4 persen peningkatan kasusnya.

” Ini biasanya banyak ibu dan anak tak berdosa hanya jadi korban dari pola hidup bapaknya yang tidak baik, “ujar Sri.

Sebetulnya untuk Riau sendiri lanjut Sri, infeksi baru menurun namun di lain pihak yang tersembunyi mulai kelihatan karena adanya penyuluhan yang aktif dilakukan baik itu pemerintah maupun jaringan penggiat kemanusiaan.

Baca Juga:   SBY Segera Bertemu Tommy Soeharto

” Makanya untuk penanggulangan ini dibutuhkan semua lini misalnya dari Perhubungan targetnya kepada sopir, kemudian pariwisata juga harus aktif, begitu juga lainnya termasuk tokoh agama juga berperan. Kami (KPA) hanya konsultasi dan penyuluhan, “jelas Sri.

Sementara untuk peringatan Hari Aids Sedunia (HAS) di Riau sendiri yang jatuh setiap 1 Desember akan ada acara penyuluhan ke enam kampus di Riau, kemudian seminar dan aksi ke tempat pusat perbelanjaan untuk mengajak masyarakat mengecek diri.

Terpenting lagi lanjut Sri, masyarakat harus melakukan voluntary counselling and testing (VCT) atau bisa diartikan sebagai konseling dan tes HIV sukarela (KTS).

VCT bisa dilakukan di puskesmas atau rumah sakit maupun klinik penyedia layanan VCT.

 

Sumber : Tribunpekanbaru.com

Loading...

SILAHKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.