Miris, Nasib Petani Karet di Kampar Saat Harga Jual Anjlok, Ada Yang Kerja Serabutan hingga Jadi TKI ke Malaysia

Miris, Nasib Petani Karet di Kampar Saat Harga Jual Anjlok, Ada Yang Kerja Serabutan hingga Jadi TKI ke Malaysia
Ilustrasi Dok. net
Bagikan :

BERITA RIAU, KAMPAR- Para petani karet di Kabupaten Kampar hidup susah saat ini dengan anjloknya harga jual karet.

Saat ini di Kabupaten Kampar harga karet dari hasil kebun petani hanya dihargaI senilai Rp 5.600 sampai Rp 5.800 perkilogramnya.

Harga ini diterima petani sudah bertahan sejak enam bulan terakhir.

Petani Karet di Kecamatan Salo, Jamil bercerita kondisi harga karet saat ini sangat memprihatinkan dan menyulitkan kehidupannya.

Harga kisaran Rp 5.600 hingga Rp 5.800 merupakan harga yang kami terima dari penampung.

“Mungkin kalau jual langsung ke pabrik harga bisa tinggi namun kami tidak punya akses langsung kesana,” katanya.

Saat ini dirinya memiliki kebun karet seluas 1 hektare.

Dua tahun lalu harga jual karet masih cukup menguntungkan bagi dirinya.

Baca Juga:   SKK Migas Berupaya Tingkatkan Kinerja Pada Pengelolaan Rantai Suplai di Industri Hulu Minyak dan Gas Bumi

Dari hasil kebun karet tersebut dulunya ia bisa membangun rumah, membiayai makan dan kebutuhan keluarga serta sekolah anak.

Namun saat ini hasil dari kebun sudah pas-pasan hanya untuk cukup makan saja, tidak bisa untuk kebutuhan lain.

“Saat ini untuk mencukupi kebutuhan keluarga saya terpaksa bekerja serabutan sebagai tukang,” katanya.

Dahulu dalam memanen getah ia bisa mempekerjakan orang, saat ini dengan harga segitu ia terpaksa memanen sendiri yang terkadang tidak maksimal karena dikerjakan sendiri.

“Kita tentunya kecewa dengan kondisi harga sekarang ini, tapi mau bagaimana lagi kita cuma bisa melakukan ini untuk kebun kami,” katanya.

“Saya berharap ditahun 2019 ini harga ditingkat petani bisa lebih baik lagi, paling tidak Rp 10.000 perkilonya,” katanya.

Baca Juga:   Bila Jadi Presiden Prabowo Bertekad Bawa Timnas Sepakbola Masuk Piala Dunia

Sementara Hamidi warga Kecamatan Salo, Desa Salo mengaku karena harga yang terlalU rendah saat ini dirinya hilang pekerjaan sebagai penyadap karet di kebun milik petani karet.

“Dulu waktu harga karet masih bagus banyak panggilan kerja memanen karet. Saat ini hampir sama sekali tidak ada. Sudah tiga bulan saya tidak kerja memanen getah,” katanya.

Karena kondisi demikian dirinya saat ini terpaksa bekerja serabutan seperti berjualan di pasar, jadi tukang atau lainnya untuk menghidupi tiga anaknya dan satu istri.

Ia berharap harga karet bisa naik ditahun 2019.

Baca Juga:   Tim Labor UIR Tinjau Pekerjaan Jalan Gajahmada Duri dan Cek Mutu Bahan

“Semoga harga karet kembali naik tahun 2019. Tapi tentunya tidak hanya naik di pabrik tapi juga di petani,” katanya.

Sementara Herman warga Kecamatan Salo Desa Sepungguk mengaku akibat harga karet yang terlalu rendah salah satu keluarganya yang memiliki kebun karet terpaksa pergi ke Malaysia mencari nafkah karena tidak mencukupinya hasil kebun.

“Terpaksa adek saya pergi kerja jadi TKI keluar negeri karena kondisi harga karet yang terlalu rendah,” katanya.

Ia mengatakan keluarga adeknya tersebut terpaksa hidup pas-pasan saat ini.

“Kalau begini terus tentunya hidup masyarakat akan semakin sulit,” katanya.

Ia berharap di tahun 2019 harga karet bisa lebih baik lagi.

 

Sumber : Tribunpekanbaru.com



Be Smart, Read More