Di Debat Capres Jokowi Pakai Alat Bantu Komunikasi ?

88
0

Berita Pekanbaru - Berita Riau
Bagikan :
Di Debat Capres Jokowi Pakai Alat Bantu Komunikasi ?
Calon Presiden Nomor Urut 1, Joko Widodo dan no urut 2, Prabowo Subianto bersalaman usai Debat Kedua Calon Presiden, Pemilihan Umum 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019).

BERITA RIAU, Jakarta – Jagad maya tiba-tiba heboh pascadebat kedua Pilpres 2019 yang digelar pada Minggu 17 Februari 2019. Lantaran, calon presiden Joko Widodo atau Jokowi dituding menggunakan alat bantu komunikasi atau wireless earphone dalam debat capres menghadapi Prabowo Subianto.

Tudingan tersebut muncul di akun facebook. Si pengguna memajang foto Jokowi yang tengah menekan telinga dan memencet pulpen.

Sisa depat capres, meninggalkan tanda tanya. BPN (Badan Pemenangan Nasional) harusnya memeriksa telinga Jokowi, ada earphone atau tidak, jika ada, patut dipertanyakan untuk apa itu earphone, cek juga pulpen yang dipegang Jokowi,” tulis si pengguna.

Dalam keterangan foto juga tertulis: “Ada apa di kuping? Ada wireless earphone? Apa yang sedang didengarkan? Mendengarkan arahan? atau mendengarkan rekaman jawaban?”  

Jokowi pun menepis kabar menggunakan alat bantu dengar atau earpiece saat debat kedua yang dilaksanakan di Hotel Sultan, Minggu malam. Dia menilai hal tersebut adalah fitnah yang tidak bermutu.

“Ada-ada aja sih ini. Fitnah-fitnah seperti itu jangan diterus-terusin lah,” kata Jokowi saat di SD Negeri Panimbangjaya 01, Tanjungjaya, Pandeglang, Banten, Senin (18/2/2019).

“Jangan buat isu, fitnah-fitnah yang enggak bermutu,” lanjut Jokowi.

Dia juga menjelaskan saat debat membawa pulpen adalah alat tulis biasa. “Ini pulpen. Cek saja,” kata Jokowi sambil menujuk pulpen yang dibawa.

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Abdul Kadir Karding menegaskan, pulpen yang dipegang Jokowi hanya pulpen biasa.

“Saya menyaksikan bahwa tidak ada sama sekali pemasangan alat di tubuh Pak Jokowi berupa earphone, dan pulpen yang dibawa itu adalah pulpen biasa bukan pulpen yang seperti dinarasikan BPN (Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga) di medsos-medsos,” ujar Karding, Senin (18/2/2019).

Dia menuturkan hanya alat clip on yang dipasang oleh panitia. Tujuannya untuk memperjelas suara saat debat. Karding pun menantang untuk mengecek rekaman CCTV.

Baca Juga:   Kabar Duka, Besan Jokowi, Ayah Selvi Ananda Meninggal Dunia

“Jadi saya bersaksi bahwa tidak ada pemasangan sama sekali. Dan boleh dicek saya kira ada cctv di ruang itu dan mungkin bisa dicek,” kata Ketua DPP PKB itu.

Karding menduga isu penggunaan alat itu cara timses menutupi kelemahan penguasaan materi Prabowo saat debat. Bahwa jawaban yang ditampilkan justru di luar standar dan kapasitas capres.

“Dan sekaligus menutupi kesuksesan Pak Jokowi di dalam memberikan jawaban-jawaban yang by data yang memiliki hope dan sekaligus sangat taktis sesuai dengan pertanyaannya. Dan jawaban-jawaban yang boombastis jargon dan berulang-ulang,” kata dia.

Juru bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Meutya Viada Hafid menambahkan, isu penggunaan earpiece atau alat bantu komunikasi yang digunakan Jokowi dalam debat kedua capres pada Minggu 17 Februari 2019 itu sangat jahat.

“Sungguh jahat bagi kami tudingan disebarkan luas. Kami agak kaget sebetulnya,” ucap Meutya dalam sesi debat di bilangan diskusi, Jakarta, Senin (18/2/2019).

Politikus Partai Golkar ini menyadari, memang dalam kompetisi selalu ingin menang. Tapi, lanjut dia, tak seharusnya menggunakan isu tersebut saat debat

Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Hasto Kristiyanto, menyatakan penyesalannya terkait pernyataan Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Andre Rosiade, atas tuduhan penggunaan earpiece oleh Jokowi saat debat berlangsung.

“Lagi-lagi politik kambing hitam diterapkan. Jangan hanya karena kalah debat, lalu menggunakan berbagai cara untuk menutupi kekalahan tampilan Prabowo tadi malam. Ketidakmampuan Pak Prabowo jelaskan unicorn sebaiknya menjadi bahan evaluasi tim 02,” ujar Hasto melalui sebuah pernyataan tertulis, Senin (18/2/2019).

Hasto menegaskan, tanggung jawab jubir kampanye seperti Andre Rosiade melekat dengan tanggung jawab Prabowo-Sandi. Seharusnya, jubir bicara mengenai aspek kenegarawanan dan memiliki kerendahan hati untuk berbicara secara objektif.

“Debat itu memerlukan persiapan, memerlukan strategi, dan pada akhirnya rekam jejak, pengalaman, dan karakter pemimpin yang akan menentukan. Jangan biasakan politik kambing hitam. Politik kambing hitam adalah sikap tidak kesatria yang seharusnya dihindari dalam kontestasi demokrasi,” Hasto menuturkan.

Baca Juga:   Satgas Saber Pungli Tangkap Oknum Lurah di Pekanbaru, Beserta Uang Tunai 10 Juta Rupiah

Hasto menekankan, politik kambing hitam tersebut dapat menghambat kemajuan demokrasi Indonesia.

Menurutnya, hal ini dilakukan sebab kubu Prabowo miskin prestasi dan gagasan. Apa yang diungkapkan Prabowo pada debat kedua Pilpres kemarin merupakan penggulangan dari persoalan yang selalu disampaikan sejak tahun 2008 ketika awal Partai Gerindra berkiprah.

“Nanti sebentar lagi mereka akan persoalkan beberapa hal seperti kartu suara, netralitas penyelenggara pemilu, netralitas aparat negara dan lain-lain. Semua isu lama, tanpa gagasan segar,” lanjutnya.

“Atas berbagai fitnah dan tuduhan yang selalu mereka berikan, lama-lama rakyat akan membawa foto ‘Kambing Hitam’ saat bertemu dengan Prabowo-Sandi,” Hasto menambahkan.

Calon wakil presiden nomor urut 01, Ma’ruf Amin mengatakan, tidak mungkin calon presiden nomor urut 01, Jokowi menggunakan alat bantu komunikasi saat debat kedua Pilpres berlangsung pada hari Minggu (17/2/2019) kemarin.

Sebab, sebagai petahana, Ma’ruf yakin Jokowi benar-benar hafal capaian kinerja pemerintahannya sendiri.

“Karena beliau paham yang ditanyakan, yang dimintai keterangannya, kan semua sudah pekerjaan beliau. Tidak usah pakai dibantu itu sudah hafal semua,” tukas Ma’ruf di kediamannya, Jl. Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (18/2/2019).

Menurutnya, Jokowi juga sangat menguasai tema debat kedua yang digelar kemarin. Yaitu, soal infrastruktur, lingkungan hidup, energi, pangan, lingkungan hidup (LH), dan sumber daya alam (SDA).

“Itu kan memang hari-hari kerjaan beliau. Jadi, ya, saya kira isu itu tidak benar lah,” lanjutnya.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) menegaskan, tidak ada capres yang menggunakan alat bantu dengar dalam debat kedua Pilpres 2019. Sehingga, penggunaan earpeace yang diduga digunakan JokoWidodo atau Jokowi, tidak benar.

Baca Juga:   Ada 4 Fakta Tentang Menguaknya Sosok Cawapres Jokowi.

“Capres 01 dan 02 tidak ada yang menggunakan alat bantu. Jadi clear seperti itu. Baik 01 maupun 02 tidak ada yang menggunakan alat bantu,” ucap Komisioner KPU Wahyu Setiawan saat dikonfirmasi, Senin (18/2/2019).

Komisioner KPU Viryan Aziz menjelaskan, apa yang digunakan Jokowi maupun Prabowo hanya clip on microphone, yang menempel di baju masing-masing calon. Dan penggunaanya saat sesi penyampaian visi misi.

“Saat penyampaian visi misi pertama kali, tidak ada yang menggunakan mic. Artinya yang menempel di pakaian, itu kedua calon presiden menggunakan,” jelas Viryan.

Dia mengatakan, untuk sesi selanjutnya, kedua Capres kembali menggunakan microphone wireless. Semuanya, hanya itu alat yang ada.

“Begitu dialog pegang mic. Itu artinya memang alat (yang disiapkan). Dua-duanya ada,” pungkasnya.

Sementara itu, calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahuddin Uno tak yakin jika Jokowi memakai alat bantu komunikasi saat debat pilpres kedua. Karena, alat bantu dengar itu sering digunakan di berbagai kegiatan.

“Saya enggak yakin ya, dan walaupun teknologi itu ada, tapi kan itu dilarang oleh KPU, alat-alat bantu seperti itu,” kata Sandi, di Media Center pemenangan Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya I, Jakarta, Senin (18/2).

Ia pun menilai, kedua capres yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto mengedepankan prinsip kejujuran selamat menjalankan atau bertarung dalam debat Pilpres 2019.

“Menurut saya, kita semua telah memiliki komitmen dan integritas, secara jujur dalam berkompetisi, saya cukup yakin pak Prabowo dan pak Jokowi sangat memerhatikan aspek kejujuran,” ujarnya.

Oleh karena itu, Sandi meminta terkait isu adanya penggunaan earpiece ini tak perlu ditanggapi secara serius lagi. Ia mengaku tak yakin ada yang menggunakan alat tersebut dalam kontestasi Pilpres 2019. “Jadi saya rasa itu tak harus ditanggapilah,” ucapnya.