Hujan Buatan Atasi Kebakaran Hutan di Riau, BPPT Akan Siapkan Lagi 17 Ton Garam untuk Disemai

25
0

Berita Pekanbaru - Berita Riau
Bagikan :
Hujan Buatan Atasi Kebakaran Hutan di Riau, BPPT Akan Siapkan Lagi 17 Ton Garam untuk Disemai
FOTO ILUSTRASI - Tim Satgas penanganan kebakaran hutan dan lahan mempersiapkan garam untuk disemai di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Jumat (3/7/2015). Sebanyak 2,4 ton garam setiap harinya di semai di beberapa titik di langit Provinsi Riau untuk membuat hujan buatan bila cuaca mendukung. Hal ini dilakukan hingga bulan Oktober mendatang untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau. TRIBUN PEKANBARU THEO RIZKY

BERITA RIAU, PEKANBARU – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sudah menyiapkan sebanyak 17 ton garam untuk disemai di langit Riau.

Hal ini guna mempercepat potensi hujan buatan yang bertujuan untuk membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah daerah di Riau.

Garam ini akan disemai menggunakan pesawat Casa milik TNI.

Kepala BPPT Hammam Riza menjelaskan, operasi skema Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) ini sudah dimulai sejak Februari lalu.

Sesuai rencananya, akan dilaksanakan hingga Maret 2019 ini.

“Sejauh ini sudah lebih dari 5 ton garam yang disemai dan mulai menurunkan hujan di Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis, dan Kota Dumai. Satu sortie itu bisa 800 kilogram untuk kawasan 10 kali 10 kilometer,” kata Hammam saat diwawancarai usai meninjau persiapan pesawat untuk menyemai garam di Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Senin (4/2/2019).

Baca Juga:   Roy Suryo Akan Tunjuk Pengacara Hadapi Tudingan soal Barang Milik Negara

Lanjut dia, garam higroskopis itu kemudian disemai di awan supaya segera turun hujan dan membasahi lahan gambut yang terbakar.

Menurut Hammam, penyemaian garam dilakukan berdasarkan koordinasi dengan BNPB dan Satgas Siaga Darurat Karhutla Riau serta Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru.

Selanjutnya pesawat terbang ke arah awan yang dinilai berpotensi hujan oleh BMKG.

Dari 17 ton garam yang sudah disiapkan itu, kemungkinan akan ditambah lagi jumlahnya.

Hal ini akan disesuaikan dengan perkembangan cuaca dan jumlah titik panas di Riau.

Hujan buatan ini tak hanya diharap membasahi gambut, tapi juga mengisi embung-embung ataupun kanal sebagai persediaan air gambut.

Di sisi lain, Hammam menyatakan armada pesawat penyemai garam untuk hujan buatan jumlahnya sangat terbatas.

Sehingga jika ada Karhutla di Sumatera dan di Kalimantan, maka akan sangat kesulitan untuk melakukan hujan buatan ini secara serentak.

Baca Juga:   Laporan dari BPBD Kabupaten Kepulauan Meranti, Api Sudah Merambat ke Kaki Hutan,

“Kemudian dilengkapi juga dengan sensor tinggi muka air (TMA) di lahan gambut. Kita juga gunakan teknologi itu,” sebut dia.

Hammam membeberkan, saat ini daerah yang menjadi fokus operasi ini adalah Meranti dan Pelalawan. Karena hotspot atau titik panas masih terpantau di sana.

Targetnya disebutkan Hammam, adalah untuk menghilangkan hotspot atau titik panas yang muncul.

“Dari 293 titik yang kita amati lewat satelit Aqua Terra, sekarang sudah tinggal 2 titik. Ini kita harapkan dapat kita atasi dalam sortie-sortie berikutnya. Dalam bulan ini juga,” tuturnya.

Dari 17 ton garam yang sudah disiapkan itu, kemungkinan akan ditambah lagi jumlahnya.

Hal ini akan disesuaikan dengan perkembangan cuaca dan jumlah titik panas di Riau.

Hujan buatan ini tak hanya diharap membasahi gambut, tapi juga mengisi embung-embung ataupun kanal sebagai persediaan air gambut.

Di sisi lain, Hammam menyatakan armada pesawat penyemai garam untuk hujan buatan jumlahnya sangat terbatas.

Baca Juga:   Kampung Bandar Menjadi Tempat Pelampiasan Anak-Anak Seniman Pekanbaru

Sehingga jika ada Karhutla di Sumatera dan di Kalimantan, maka akan sangat kesulitan untuk melakukan hujan buatan ini secara serentak.

“Kemudian dilengkapi juga dengan sensor tinggi muka air (TMA) di lahan gambut. Kita juga gunakan teknologi itu,” sebut dia.

Hammam membeberkan, saat ini daerah yang menjadi fokus operasi ini adalah Meranti dan Pelalawan. Karena hotspot atau titik panas masih terpantau di sana.

Targetnya disebutkan Hammam, adalah untuk menghilangkan hotspot atau titik panas yang muncul.

“Dari 293 titik yang kita amati lewat satelit Aqua Terra, sekarang sudah tinggal 2 titik. Ini kita harapkan dapat kita atasi dalam sortie-sortie berikutnya. Dalam bulan ini juga,” tuturnya.

Sumber : Tribunpekanbaru.com