Sudah 4 Hari Warga Desa Koto Aman Bertahan di Pekanbaru untuk Demo, Mereka Pun Mulai Kehabisan Uang

26
0

Berita Pekanbaru - Berita Riau
Bagikan :
Sudah 4 Hari Warga Desa Koto Aman Bertahan di Pekanbaru untuk Demo, Mereka Pun Mulai Kehabisan Uang
Ratusan masyarakat yang tergabung dalam Persatuan Desa Koto Aman Menggugat (Pekam) melakukan aksi unjuk rasa di Tugu Zapin Pekanbaru Selasa (5/3/2019)

BERITA RIAU, PEKANBARU – Sudah empat hari ratusan warga dari Desa Koto Aman, Kecamatan Tapung Hilir Kabupaten Kampar terkatung-katung di Ibu Kota Provinsi Riau, Kota Pekanbaru.

Mereka berduyun-duyun datang ke Kota Pekanbaru untuk melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubenur Riau sejak Selasa (4/3/2019) sore kemarin.

Hingga, Jumat (8/3/2019) mereka masih bertahan di Kota Pekanbaru untuk menyampaikan tuntutannya.

Yakni terkait konflik agraria di desa Koto Aman, Tapung Hilir, Kampar, Riau.

Mereka mengadu ke Gubernur Riau kerena lahan mereka seluas 1.500 hektare dikuasai oleh perusahaan sawit PT Sekar Bumi Alam Lestari (SBAL) sejak tahun 1991.

Selama di Pekanbaru, mereka pun harus rela menginap di pinggir jalan dengan mendirikan tenda dan alas tidur seadanya.

Sebelumnya ratusan warga Desa Koto Aman ini menginap dengan mendirikan tenda di samping kantor Gubernur Riau.

Lalu mereka berpindah lagi menginap dibawah Jembatan Layang atau Flyover di simpang Jalan Sudirman – Jalan Tuanku Rambusai.

Selama menetap di Pekanbaru mereka pun tidur dengan beralaskan kain yang dibentangkan dibawah Flyover.

Baca Juga:   Premium Hilang, Pertalite Naik, Membuat masyarakat riuh, Untung buat Siapa?

Pantuan Tribunpekanbaru.com, kondisi dibawah Flyover yang dijadikan tempat menginap ratusan warga Desa Koto Aman ini, terlihat berserakan sampah sisa makanan dan bekas nasi bungkus.

Disudut Flyover juga terlihat tumpukan tas milik warga Desa Koto Aman.

Tidak hanya tidur dengan beralaskan kain, selama menginap di Pekanbaru warga Desa Koto Aman, Kampar ini juga makan seadanya.

Bahkan ada beberapa warga Desa Koto Aman yang hanya makan ubi rebus yang dibawa dari desanya.

“Dah dua hari ini makan ubi disini, tak ada duit lagi mau beli nasi bungkus,” kata salah seorang warga Desa Koto Aman yang enggan menyebutkan namanya.

Sebelumnya ratusan warga desa Koto Aman ini melakukan aksi unjuk rasa di Tugu Zapin Pekanbaru.

Untuk yang kesekian kalinya, mereka menuntut janji Presiden RI Joko Widodo yang akan menuntaskan konflik agraria di desa Koto Aman, Tapung Hilir, Kampar, Riau empat bulan lalu.

“Kami menagih janji mu pak Jokowi, katanya akan menyelesaikan konflik agraria di desa kami empat bulan lalu, tapi nyatanya apa, sampai sekarang belum tuntas juga,” kata Koordinator Lapangan Aksi, Dapson dalam orasinya menggunakan pengeras suara sambil berdiri di atas tumpukan speaker yang disusun di atas mobil pick up.

Baca Juga:   Asian Games Dimulai, Berdampak Dengan Penjualan UMKM Melonjak 300 Persen

“Hari ini kami sampaikan sumpah bahwa kami akan meneteskan darah kami, bahkan nyawa kami pun akan kami korbankan demi hak dan masa depan anak cucu kami,” teriaknya disambut teriakan massa.

Pendemo yang didominasi ini ibu-ibu ini duduk lesehan di pinggir jalan tepat di depan pagar Kantor Gubenur Riau.

Jangan pernah bicara lahan perkebunan di tangan asing untuk masyarakat. Presiden pernah menyampaikan HGU akan dikembalikan ke rakyat, tapi nyatanya mereka sudah datang hanya menebar janji,” katanya.

Pendemo menyampaikan terkait perjuangan untuk mendapatkan hak-haknya yang diduga dirampas perusahaan.

Baca Juga:   Dishub Menangkap 2 Juru Parkir Di Pekanbaru? Apa Penyebabnya

“Kita tidak akan pulang ataupun mundur sebelum kami terlepas dari penjajah kapitalis di desa kami. Yakni kembalikan lahan kami seluar 1500 hektar yang telah dirampas PT SBAL,” ujarnya.

Menurutnya hampir 80 persen lahan kehidupan masyarakat Desa Koto Aman, Kecamatan Tapung Hilir, Kampar, Riau dikelola oleh perusahaan PT Sekar Bumi Alam Lestari (SBAL) sejak tahun 1991.

“Itu adalah awal dari masa kelamnya anak cucu kami di sana. Dimana pada tahun iyu pihak asing mulai masuk ke tanah kami dan menyerobot lahan kami dengan modus perkebunan kelapa yang pada akhirnya berubah menjadi kebun kelapa sawit,” kata Dapson.

“Para pemangku jabatan di negeri ini sudah buta, tuli dan bisu terhadap nasib kami di desa yang terpencil dan tertindas. Kebohongan janji pada petingging Riau ini sudah membuat kami bosan, bahkan pemimpin di republik ini juga ikut memberi janji manis yang sangat menyayat hati kami masyarakat kecil,”pungkasnya.

 

Sumber : Tribunpekanbaru.com